Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam

ELABORASI KADER HMI, NARASI GERAK MENYONGSONG 1 ABAD INDONESIA

Artikel Terbaik Peserta Sekolah Pimpinan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) – 2017

Oleh: Putri Utami Muis

(Ketua Umum Kohati Badko Sulselbar)


“the progress of islam is better with the sward of kindness, not with the sword of oppression”,- Padshah Zahiruddin Muhammad Babur

Merindukan masa keemasan peradaban islam bagi generasi Y seperti saya tak ada salahnya, tingginya arus globalisasi dan percepatan teknologi tak membuat identitas keislaman dalam diri seseorang itu berkurang. Menilik balik sejarah permulaan kemajuan yang dicapai umat Islam pada buku “mengapa kaum mu

slim mundur” karya Al-Amir Syakib menerangkan bahwa Islam lahir di jazirah Arabia yang pada waktu itu mampu menyatukan berbagai kabilah yang dulunya bercerai – berai, masyarakat yang tadinya biadab menjadi masyarakat beradab, dari kekerasan perangai menjadi lembut dan penuh kasih sayang, dari kebodohan menjadi masyarakat yang mencintai ilmu. Hal ini menunjukkan bahwa sejarah melukis masa indah tentang peradaban Islam.

Artefak bangunan warisan ilmu pengetahuan yang dikemudian diadopsi oleh peradaban barat lahir pada 7 abad kejayaan Islam sejak penanaman ketauhidan era Rasulullah SAW. Akbar S. Ahmed dalam bukunya “membedah Islam” menerangkan bahwa Periode kerasulan tauladan kita Muhammad SAW meletakkan nilai Islam sebagai fondasi membangun peradaban dunia. Sifat toleran dan pemaaf Rasulullah kepada siapa saja mengisyaratkan kelemah lembutannya dalam bentuk rasa keseimbangan, kesusilaan, kebaikan manusia dan kelembagaan yang dirasakan masyarakat Arab. Ditambahkan pula bahwa Rasulullah melaksanakan perannya diberbagai sektor dalam kehidupan, peran utamanya sebagai nabi dan peran lainnya menjadi pembuat hukum, pemimpin agama, hakim, komandan pasukan serta kepala pemerintahan sipil yang dapat menyeimbangkan perbedaan universal dimana Islam mengajarkan manusia mencari jalan tengah (ummatan wasatha) yang berbicara tentang kehidupan yang baik bagi seluruh ummat.

Hal diatas harusnya membuat umat Islam hari ini bertanya lebih dalam kepada dirinya “Apakah Saya mampu membuat peradaban selanjutnya ?”. setelah masa keemasannya Islam mengalami kemunduran dalam berbagai bidang. Kemunduran itu menurut Al- Amir arsalan merupakan sebab dari semakin merajalelanya kebodohan di antara umat Islam (ilmu pengetahuan tidak  lagi menjadi hal penting), kemerosotan moral atau budi pekerti dan krisis keberanian umat islam untuk menghadapi pihak lain. Fakta lain tercatat pada Science citation index pada tahun 2004 sebanyak 46 negara Islam hanya memberi kontribusi 1,17 % pada penerbitan karya ilmiah dunia yang berada dibawah posisi India dan Spanyol. Jerman, Inggris, Jepang berturut – turut menyumbang 7,1 % , 7,9 % dan 8,2 %, Amerika Serikat menyumbang 30,8%, sedangkan 20 negara Arab menyumbang hanya 0,55 % dari total karya ilmiah dunia.

Menuju masyarakat Ilmiah memang tak mudah, apalagi mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Budaya literasi seharusnya menjadi fokus kita hari ini, tetapi fikiran dan tenaga malah habis untuk meladeni kemarahan dan kegarangan sebagian umat islam pada persoalan yang tak jelas dan memprovokasi umat islam lainnya sehingga dapat mengancam komunitas agama lain. Ada 2 hal yang lebih penting dan menjadi PR (pekerjaan rumah) yang mesti diperkenalkan umat Islam ke dunia Internasional yaitu sifat atau karakter Indonesia yang damai dan menerima keberagaman dan budaya saling menukar ilmu ke negara – negara lain agar jalinan silaturahmi dapat terbangun kedepannya.

Untuk mempersiapkan tahun 2045, HMI dapat bekerja mulai dari sekarang, baik menjadi pencegah maupun menjadi pengobat pemuda masa kini. Bonus demografi akan lebih dahulu kita temui ditahun 2020, dimana Merial Institute, lembaga kajian yang concern pada riset terkait isu kontemporer, mencoba melakukan perhitungan dan pengelompokkan mengenai pemuda. Tahun 2016 Indonesia memiliki 62.041.000 orang pemuda. Jumlah itu setara dengan 24,07% dari total keseluruhan penduduk Indonesia. Sebanyak 53,8% pemuda Indonesia tinggal di kota dan sisanya di desa. Data yang paling mengejutkan adalah tingkat pengangguran pemuda lebih tinggi (14,9%) dari pada tingkat pengangguran nasional (5,61%).

Jikalau hal ini tidak dtanggulangi secara masif yaitu memberikan lapangan pekerjaan kepada pemuda atau pemuda menemukan kegiatan yang dapat menghasilkan finansial, hal tersebut bisa menjadi beban negara yang membuat utang negara semakin hari semakin bertambah dan kehidupan para pemuda tak tentu arah dan tujuan. Saya membahas dalam paragraf ini lebih kepada persiapan generasi muda khususya kader HMI untuk meramu gerakan alternatif dalam menanggapi data dari Merial Institute diatas. Jikalau Merial Institute melansir data 53,8% angka urbanisasi, sebelum melonjak tinggi, HMI harus menjadi tangan pemutus dan pengambil sikap terkait data tersebut. HMI dapat menjadi media mendapatkan metode – metode kreatif untuk menghasilkan finansial dari beberapa bidang tertentu, seperti contoh menjadi tangan untuk menumbuhkan jiwa wirausaha kepada para pemuda yang berdasar pada pengembangan potensi sumber daya alam pada daerah masing – masing yang bisa dijadikan produk jual, menjadi tangan yang menerima perkembangan teknologi yaitu dengan pengelolaan website mendidik yang prosesnya sampai kepada google mempercayai untuk memasangkan iklan dan setiap klik dari nitizen menghasilkan pundi rupiah, ataupun beberapa cara lainnya.

Profesionalisme dapat menjadi salah satu pokok perhatian juga, bahwa tak semua kader HMI ingin menjadi profesi tertentu yang sedang mainstream bergerilya di HMI, sebut saja Politicians, ada beberapa kader HMI yang ingin menjadi penulis, peneliti, wirausaha,  ataupun karyawan sekalipun. Tugas HMI kembali kepada Student Need and Student Interest sebagaimana yang terkandung dalam platform gerakan kemahasiswaan. Profesionalisme yang saya maksud disini yaitu basis keilmuan yang menjurus pada akademik kader HMI dapat harus dienyam sedemikan tinggi karena bagaimanapun, Universitas dan jurusan yang kita pilih sehingga mendapatkan gelar mahasiswa yang mempertemukan kita dengan organisasi hijau hitam.

Hal – hal diatas dapat dikorelasikan untuk mempersiapkan generasi 2045 yang bertepatan dengan 1 abad Indonesia, dapat ditinjau pada abad ke 21 saat ini yaitu persaingan antar negara semakin tinggi dan secara otomatis, dibutuhkan generasi yang kuat, cerdas, kreatif, responsif, dan berkarakter sehingga mampu menjaga jati diri bangsa dan budaya nasional. Menurut Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2016 mengatakan bahwa pada situasi saat ini yang memasuki abad 21, ada enam hal kecenderungan yang dialami yaitu :

  1. Berlangsungnya revolusi digital yang semakin luar biasa yang mengubah sendi-sendi kehidupan, kebudayaan, peradaban, dan kemasyarakatan, termasuk pendidikan.
  2. Terjadinya integrasi belahan dunia yang semakin intensif akibat internasionalisasi, globalisasi, hubungan hubungan multilateral teknologi komunikasi dan teknologi transportasi.
  3. Berlangsungnya pendataran dunia (the world is flat) sebagai akibat berbagai perubahan mendasar dimensi – dimensi kehidupan manusia terutama akibat mengglobalnya korporasi dan individu.
  4. Sangat cepatnya perubahan dunia yang mengakibatkan dunia tampak berlari tunggang langgang, ruang tampak menyempit, waktu terasa ringkas, dan keusangan segala sesuatu cepat terjadi.
  5. Semakin tumbuhnya masyarakat padat pengetahuan (knowledge society), masyarakat informasi (information society), dan masyarakat jaringan (nerwork society), yang membuat pengetahuan, informasi, dan jaringan menjadi modal sangat penting.
  6. Makin tegasnya fenomena abad kreatif beserta masyarakat kreatif yang menempatkan kreativitas dan inovasi sebagai modal penting untuk individu, perusahaan dan masyarakat.

Atas enam dasar poin kecenderungan menurut Kemendikbud, pemerintah yang sedang mengurus negeri, perlu kiranya memformulasi langkah kongkrit dalam menjaga dan menyeimbangkan ritme gerak demi kemajuan negara serta dapat membuat peradaban baru untuk Indonesia sebagai pemimpin dunia. Kita dapat meminjam langkah kongkrit untuk membangun masa depan bangsa ala Nanat fatah natsir yang tertuang pada bukunya berjudul “The Next Civilization” yaitu :

  1. Penguatan ideologi bangsa
  2. Peningkatan kualitas sumber daya manusia
  3. Menumbuhkan ekonomi yang berkeadilan
  4. Pengembangan sains dan teknologi
  5. Penguatan akhlak dan karakter bangsa
  6. Reintegrasi keilmuan, wahyu memandu ilmu
  7. Membangun masyarakat pluralis
  8. Penguatan demokratisasi dan Good Governance
  9. Penegakan hukum dan pemberantasan korupsi
  10. Smart diplomacy
  11. Pengembangan kewirausahaan

Kader HMI yang berlabelkan mahasiswa Islam, agar memulai dari sekarang menggarap secara tekun dan cermat (elaborasi) terhadap peristiwa – peristiwa yang marak terjadi. Tak ada yang tak mungkin ketika 7 abad keemasan umat Islam digenggam pada masa lalu yang menjadikan Islam agama yang diidolakan oleh seluruh umat didunia pada saat tu dapat diraih kembali oleh sumber daya manusia yang berdaya saing, inovatif, kreatif, berdasar literatur yang berlandaskan Al-Qur’an dan Al-Hadist, memiliki tujuan 5 insan cita (insan akademis, pencipta, pengabdi, bernafaskan Islam dan bertanggung jawab) untuk sema – mata atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Mengatur ritme gerak perlahan – lahan, mempersiapkan strategi menuju peradaban selanjutnya agar sampai pada tujuan yang sebetul –betulnya yang kita impikan.

Saya ingin bercita – cita bahwa HMI selalu menjadi sekolah terbaik diantara semua universitas dan perguruan tinggi yang ada dibelahan dunia manapun. Basis islam ala Lafran Pane yang diterjemahkan oleh Cak Nur melalui NDP menjadi sebaik – baiknya ilmu agama yang digenggam erat oleh HMI ketika bersosial, lembaga profesi atau lembaga khusus yang ada di HMI menjadi rumah belajar para profesionalis kader HMI, tingkatan atau jenjang kaderisasi dan struktural menjadi setinggi – tingginya tangga yang membawa kader HMI menuju insan kamil dalam menapaki hidup. Harapan yang tak pernah luput bahwa setelah sarjana, kader HMI mengetahui arah dan tujuan yang akan dia jalani selanjutnya, hal ini dikarenakan karena komisariat telah menjadi tempat paling nyaman untuk kader menanyakan tugas – tugas kuliah dan tugas – tugas sosial kemasyarakatan.

Pusat peradaban memang terus bergulir dari wilayah satu ke wilayah yang lainnya, seperti jam berputar dan setiap angka mendapat bagian untuk disinggahi. Semoga peradaban kejayaan keemasan umat Islam khususnya Indonesia dapat kembali dan memegang tahta selama berabad – abad. Literacy, enterpreunership and professionalism is a key to independent based knowledge for my belove HMI.

 

____________________________________________________________________________

Referensi

  1. Abdullah, M.Amin : Relevansi studi agama di era pluralisme agama, 1999
  2. Ahmed, Akbar : Membedah Islam, 2004
  3. Arsalan, Al-Amir Syakib : mengapa kaum muslim mundur, 1992
  4. Burhani, Ahmad Najib : Islam dinamis, menggugat peran agama, membongkar doktrin yang membatu, kompas, 2001
  5. El-fadhl, Khaled abou : menyelamatkan islam dari muslim puritan, 2006
  6. Science citation index : Kontribusi penerbitan Karya Ilmiah, 2004
  7. Supriyadi, Dedi : Sejarah peradaban Islam, 2008
  8. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan 2016 : Pada situasi Abad 21 ditandai setidaknya 6 (enam) kecenderungan.
  9. Merial Institute : Perhitungan Pengelompokan pemuda tahun 2016
  10. Natsir, nanat Fatah : The Next Civilization
  11. Science citation index : Kontribusi penerbitan Karya Ilmiah, 2004
  12. Tamburaka, Rustam : Pengantar ilmu sejarah;teori filsafat sejarah, sejarah filsafat dan iptek, 1999
  13. Wahid, Abdurrahman : Islamku, Islam anda, islam kita;agama, masyarakat, negara, demokrasi
  14. Yatim, Badri : Sejarah peradaban islam
  15. Zarkasyi, hamid Fahmi : Akar kebudayaan barat, 2007

 

 

Leave a Reply

19 − fifteen =