Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam

Lilis Setiawati, Guru Kontrak yang tenggelam di pedalaman Papua

Jika pengabdian pada Bangsa dan Negaramu tak ternilai, maka sang Ilahi pasti menilainya.

Sudah barang klasik kalau saya bilang PAPUA itu ketinggalan, terbelakang dan kalimat sejenis yang mengandung makna yang sama. Indentiknya Papua dengan ketertinggalan tidak akan mengherankan bagi pemirsa, saya sebut mereka adalah pemirsa, sebagaimana para pemirsa yang menonton sinetron, tertawa saat drama yang disajikan lucu dan menangis saat drama yang disajikan sedih. Para pemirsa yang terhormat, memaknai kata tertinggal dan terbelakang, maka ada pertanyaan besar bagi para penguasa pemirsa negeri ini, apakah Papua itu tertinggal atau di tinggalkan, apakah terbelakang atau di kesampingkan. Entahlah.

Sebagai salam perkenalan maka saya akan memperkenalkan sedikit gambaran tentang Papua. Mengukur kemajuan suatu daerah maka kita akan mengukur bagaimana sumberdaya manusianya sebagai salah satu indikatornya, Provinsi Papua selalu memegang juara untuk Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terendah se-Indonesia, pada tahun 2015 dengan angka 57,25 sedangkan angka IPM nasional 69,55, kabupaten yang menjuarai posisi terendah juga ada di Papua dengan angka 25,47 untuk Kaupaten Nduga. (IPM rendah < 60 ; IPM tinggi > 80)


Bagi saya dan mungkin bagi kawan-kawan yang lahir dari rahim bumi pertiwi terkhusus yang lahir dari bumi Papua, tanpa mengurangi rasa hormat kepada para Founding Fathers tak mengherankan jika Papua itu meminta untuk merdeka, tak mengherankan jika ada kata Aneksasi Papua oleh Indonesia dengan berbagai masalah yang terus-terusan terawat sampai saat ini.

“Mencerdaskan kehidupan bangsa” atau “terbinanya insan akademis pencipta pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridhai Allah SWT” ataukah mungkin kedua kalimat itu yang terngiang dalam pikiran Lilis Setiawati yang juga seorang kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Merauke, Sang Melati muda yang telah syahid dalam upaya memerangi kebodohan di pedalaman Papua.

27 maret 2017, Lilis gadis muda kelahiran 27 september 1996 di tenggelamkan ombak saat bertugas sebagai guru kontrak di SD YPPK Bayun Kabupaten Asmat. Seorang Muslimah yang mengajar di sekolah yayasan Khatolik, baginya pengabdian untuk umat lebih luas dari pada sekat agama, bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur dan mencerdaskan kehidupan bangsa dengan memanusiakan manusia menjadi spirit bagi dirinya untuk menembus batas geografis dan kultural. Kemajemukan masyarakat mengajarkan kami di Papua untuk dapat saling menerima perbedaan dan saling memberi. Setidaknya dalam hal ini Papua lebih maju di bandingkan Jakarta. Dengan adanaya seorang gadis muda yang memilih mengabdikan diri di pedalaman Papua dengan segenap konsekuensi yang kini dia hadapi.

“Pahlawan tanpa tanda jasa” karena tak ada bintang kehormatan baginya, kali ini kalimat itu tepat untuk di berikan pada dirinya seorang gadis muda yang penuh semangat untuk mengajarkan anak-anak papua membaca, menulis dan menghitung agar mereka keluar dari gelapnya kebodohan, agar anak-anak papua mempunyai mimpi. Jalur transportasi di Papua memang jauh dari kata layak dan aman, persoalan jalur trans Papua yang di gembar-gemborkan oleh pemerintah saat ini hanyalah angin kempes belaka. Seolah-olah agar terbangun citra welas asih bagi pemirsa di seberang pulau. Dan kini telah wafat seorang gadis muda pejuang pendidikan hanya karena jalur transportasi antar kecamatan.

Idealisme adalah kemewahan yang hanya dimiliki oleh anak muda, kata Tan Malaka. Lain halnya Soe Hok Gie, beruntunglah mereka yang mati muda dan yang lebih beruntung adalah mereka yang tidak dilahirkan. Dua kalimat itu sering aku perdengarkan bagi adik-adik di himpunan di kala hiruk pikuk ketidakjelasan pemerintah. Jangan menyerah untuk perubahan karena kita adalah anak muda yang memegang amanah bangsa ini, sekecil dan sebesar apapun peran kita maka lakukanlah dengan penuh tanggungjawab.

Persoalan keterbelakangan pendidikan di papua, kurangnya akses maupun keamanan transportasi, bukanlah informasi yang baru bagi setiap Presiden di Republik ini. Guru kontrak bukan hanya Lilis, memajukan Papua sebagai bagian dari Indonesia tentu bukan hanya dari aspek pendidikan, masih ada aspek kesehatan dan lainnya, maka berpikirlah kita berapa banyak orang lagi yang mempunyai potensi nasib seperti Lilis. Setelah peristiwa ini saya berharap pelayanan akan pendidikan dan kesehatan di pedalaman Papua tidak berkurang karena ketakutan. Karena sudah menjadi rahasia umum untuk di pedalaman Papua bangunan gedung sekolah ada namun guru yang mengajar yang sangat jarang di jumpai, maka seorang guru yang mempunyai tekad mengabdi yang di butuhkan. Jika tidak maka Papua akan terus menjuarai peringkat terendah dalam pembangunan manusianya,

Mungkin kita semua masih mengingat belas kasih dari Bapak Presiden kita yang memberikan santunan bagi Pengusaha warteg di serang yang kedapatan melanggar Perda Kota Serang saat bulan Ramadhan. Saat itu jelas terbangun persepsi masyarakat bahwa Ibu Saeni yang sedang teraniaya oleh Perda Serang dan munculah Bapak Presiden kita sebagai pahlawan yang langsung turun tangan. Apakah hanya karena banyaknya lensa kamera yang menyoroti maka sang Presiden langsung sigap. Berbeda dengan masyarakat yang ada di Papua, walaupun mati maka kuburkan saja.

Adinda lilis adalah kebanggaan keluarga, kebanggaan Himpunan, kebanggan Papua, Indonesia akan bangga telah melahirkan manusia sepertimu.

Kepada almarhumah adinda Lilis Setyawati, jika pengabdian ini tidak di anggap oleh bangsa dan negaramu maka biarkanlah, sebab pengabdianmu adalah pengabdian kepada Ilahi.

Oleh: Muhammad Syahril Iryanto

Wabendum Bidang Pemberdayaan Umat PB HMI

Leave a Reply