Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam

Himpunan Dan Kritik-Kritik Yang Mengalir

Oleh: Sabarudin Indra Wijaya

(Departeman Infokom PB HMI)

Saya sering mengatakan kepada rekan-rekan HMI di Cabang Singaraja ketika masih sering mengisi kajian-kajian di Cabang dimana tempat saya memulai karir Ke-HMI-an, bahwa sejauh ini hanya HMI yang berani “menampar” wajahnya sendiri. Tamparan ini bukan sekali atau dua kali saja, tapi datang bertubi-tubi oleh tangan-tangan penyadaran, tangan yang selalu merawat HMI agar selalu berada di jalan yang lurus.


Tidak saja dari para alumni yang menampar dengan keras (baca: kritik keras)  melainkan juga datang dari kader-kader yang sedang berproses disetiap tingkatan (Komisariat, Cabang, PB HMI). Saya tidak mengatakan ini tidak baik, tapi merupakan kebutuhan yang memang harus terus hidup sepanjang HMI ada sebagai wujud kepedulian terhadap Himpunan.

Namun kritikan itu bukan dengan cara membabi buta yang didominasi rasa tidak suka apalagi benci. Kritik yang baik itu tembus sampai ke hati, dapat diterjemahkan oleh akal dengan rasional dan jatuhnya pada perubahan yang positif. Bukan kritikan yang tembusnya ke uluhati, kritik semacam ini bisa jadi orang naik pitam dan jatuhnya saling mencela karena didasari benci atau dengki.

Jika kemudian ada kader HMI tidak siap menerima kritikan (baca: kritikan untuk membangun) bahkan menolaknya, pastikan saja kader itu tidak siap menerima ide-ide perubahan karena berpengetahuan yang sempit serta sangat menolak adanya perubahan.

Dalam dasar-dasar perjuangan HMI hal ini sangat ditentang, karena bila kebenaran yang dianut telah beku, ia tidak akan mampu menerima nilai-nilai kebenaran diluar dirinya, sikap ini merupakan sikap penghambat kemajuan peradaban.  Sikap ini sangat bertentangan dengan pengertian-pengertian dasar tentang kemanusiaan yang menjelaskan bahwa manusia yang sejati itu siap menerima kebenaran dari manapun datangnya.

Oleh karana kebenaran itu adalah nilai-nilai yang sangat dijunjung di HMI maka sikap terbuka harus menjadi sifat dan karakter yang dimiliki oleh setiap kader HMI. Hal semacam ini mustahil bisa dicapai dengan tanpa perencanaan yang terstruktur dan bertujuan, maka HMI merumuskan tujuanya sesuai dengan kebutuhan  zaman yakni “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah Swt”.

Tamparan mengejutkan pernah datag dari alumni HMI yang merupakan tokoh yang cukup dibanggakan dalam HMI yankni, Nurchalish Madjid (Cak Nur). Sebagai mantan Ketua Umum Penguru Besar HMI bahkan satu-satunya yang pernah menjabat menjadi Ketua Umum PB HMI dalam masa dua priode. Tentu Cak Nur sangat tahu seluk beluk ber-HMI, ketika Cak Nur melihat pergerakan HMI keluar dari jalurnya maka ia tidak segan-segan mengkritik HMI dengan keras.

Pada Tahun 2002 Silam tiga tahun sebelum Cak Nur Wafat, ia menghadiri sebuah acara Silatnas HMI yang dilaksanan di Parung Bogor memberikan beberapa pandangannya. Padangan ini lebih menitikberatkan pada Konngres HMI Periode masa kepemimpinan 2002-2004 PB HMI, Cak Nur melihat ada penyelewengan marwah organisasi selama Kongres berlangsung. Lebih keras Cak Nur memberikan saran dalam pidatonya bahwa jika HMI tidak merubah dan memperbaiki diri “HMI lebih baik bubar”.

Penilaian ini juga datang dari tokoh sejarah HMI Agusalim Sitompul (alm), bahwa perpecahan ditubuh HMI tidak lain dimulai dari praktek-praktek ketidak jujuran saat proses perkaderan khususnya dalam perebutan posisi struktural di HMI.

Pada sisi lain, kritikan tetap dating situasional yang berbeda, semisal ketika suatu cabang mengalamai stagnan dalam proses perkaderan, baik  itu rekrumen angota atau pembinaan angota akan ada alumni HMI yang menegur bahkan “tamparan” yang dimaksud di atas. Ini merupakan budaya dalam HMI, dimana budaya ini terus terbangun dengan sendirinya seiring permasalahan yang terus menggerogoti Himpunan.

Karena memang HMI berjalan dan hidup dengan tujuan yang baik, bilama mana terjadi penyelewengan akan dengan mudah terdektesi oleh kader-kader dan alumninya. Harus kita akui budaya ini memang patut dipertahankan, namun juga harus dipilah mana kritik dengan tujuan untuk penyadaran dan perbaikan dan mana kritikan yang sebenarnya bukan mengkritik tapi menghujat dan menghina.

Perlu kita sadari, wujud kritikan Alumni HMI terhadap HMI bukanlah hal baru, ini sudah lama sekali berlangsung, dan terdapat berbagai macam jenisnya, ada yang disampaikan dalam forum-forum resmi perkaderan HMI, secara individual baik juga secara institusional dan juga yang tidak kalah penting jika kritikan itu hadir dalam bentuk kariya tulis yang bernilai ilmiah dan konstitusional serta kondisional agar HMI selalu sejalan dengan kebutuhan zaman.

NB: Tulisan ini diambil dari potongan buku yang sedang dirancang oleh penulis.

Leave a Reply

nine − one =